Siapa sangka menu sarapan paling standar sedunia bisa bikin antrean mengular?
Itulah fenomena Dadar Beredar by Babe Cabita yang belakangan ini konsisten mampir di linimasa saya.
Mulai dari review TikTok yang bikin ngiler sampai perdebatan sengit di grup WhatsApp soal “apa bedanya sama telur di rumah?”
Karena penasaran, akhirnya saya pun mengajak suami saya untuk membuktikannya langsung.
Siang itu Cirebon sedang panas-panasnya, tapi kami tetap berangkat demi menjawab satu hal,”apakah Dadar Beredar memang memberikan kualitas yang ‘naik kelas’, atau sekadar viral di media sosial saja?”
Kesan Pertama: Bukan Sekadar Telur Goreng
Begitu sampai di lokasi, aroma gurih rempah sudah bikin lapar duluan.
Sayangnya, rasa lapar itu harus sedikit ditahan karena antreannya ternyata panjang.

Jujur saja, awalnya saya sempat skeptis, “Seistimewa apa sih telur dadar?”
Tapi begitu melihat piring beberapa pelanggan yang sedang makan di tempat, saya mulai paham kenapa tempat ini ramai.
Menu di sini memang fokus pada telur dadar, tapi penyajiannya punya kelas tersendiri.
Berbeda dari beberapa resto yang mengusung konsep kekinian. Dadar Beredar justru makanannya disajikan di atas daun dengan besek kayu sebagai wadahnya.
Sederhana, tapi justru bikin nuansa makan ala kampung terasa kuat.
Yang bikin saya makin terkesan, menu primadona di sini memang dari bahan dasar telur, tapi diolah jadi berbagai varian yang beragam dan unik.
Mulai dari telur dadar bakar, telur dadar crispy, sampai telur dadar ceplok yang dipadukan dengan aneka lauk pendamping.
Di sinilah letak bedanya telur dadar yang biasanya sederhana, disajikan dengan cara yang lebih kreatif dan berkarakter.
Rekomendasi Menu Dadar Beredar by Babe Cabita
1. Nasi Daun Jeruk, Menu Pembuka yang Mencuri Perhatian

Setelah berdiri mengantre hampir setengah jam, durasi yang cukup menguji kesabaran di tengah cuaca Cirebon, akhirnya tiba giliran saya dan suami di depan kasir.
Tanpa pikir panjang, pilihan pertama saya jatuh pada nasi daun jeruk.
Awalnya, saya pikir ini hanya nasi aromatik biasa.
Namun, begitu piring besek kayu beralaskan daun pisang mendarat di meja, wangi segar daun jeruknya langsung menyeruak, seolah memberi sinyal bahwa nasi ini bukan sekadar pelengkap piring.
Saat suapan pertama mendarat di lidah, ada rasa gurih ringan yang konsisten di setiap butirnya.
Potongan daun jeruk yang tercampur merata memberikan vibe segar yang menyeimbangkan rasa lauk lainnya.
Bagi saya, nasi ini adalah pondasi yang sempurna; ia tidak berusaha mendominasi, tapi justru mengikat semua rasa menu yang kami pesan hari itu menjadi satu kesatuan yang pas.
Rasanya, antrean panjang tadi terbayar lunas sejak suapan nasi ini.
2. Duet Maut Telur Dadar Bakar dan Paru: Definisi “Makan Enak” yang Sesungguhnya
Menu utama yang paling membuat saya penasaran di Dadar Beredar by Babe Cabita ini adalah Telur Dadar Bakar Paru.
Begitu tersaji, aromanya sangat khas. Ada wangi smokey dari proses pembakaran yang langsung memicu selera makan.
Telurnya tebal dan matang sempurna, bukan tipe telur dadar tipis yang biasa saya temui.

Topping parunya pun tidak mengecewakan. Teksturnya empuk dengan bumbu yang meresap hingga ke dalam, tanpa ada kesan alot sama sekali.
Saat saya menyuapnya bersamaan, rasanya benar-benar “ramai” di lidah. Ada gurih telur, sensasi asap, dan tekstur paru yang khas.
Semuanya makin lengkap saat bertemu dengan sambal racikan mereka.
Pedasnya tidak menusuk, tapi punya kedalaman rasa yang justru bikin saya ingin tambah nasi terus.
Di titik inilah saya akhirnya mengakui: perpaduan ini memang cara baru menikmati telur dadar yang benar-benar naik kelas.
3. Telur Dadar Bakar Cumi, Sensasi Smokey dengan Tekstur Kenyal

Belum puas dengan menu pertama dan kedua, saya dan suami lanjut ke menu ketiga yang kami pesan, yaituTelur Dadar Bakar Cumi.
Kalau menu paru tadi terasa “berat” dan intens, pilihan yang satu ini justru memberikan sensasi yang berbeda di lidah.
Jujur, saya sempat khawatir akan ada aroma amis, tapi ternyata cumi yang digunakan sangat segar dan tekstur kenyalnya pas, tidak alot sama sekali.
Menariknya, aroma bakar dari telurnya justru membuat rasa laut dari cumi jadi lebih keluar namun tetap seimbang.
Begitu saya padukan dengan nasi daun jeruk dan sambal, rasanya terasa lebih ringan di lidah tapi tetap sukses bikin nagih.
Bagi saya pribadi, menu ini adalah pilihan tepat kalau kamu ingin menikmati gurihnya telur bakar tanpa rasa yang terlalu “berat”. Sederhana, tapi dieksekusi dengan sangat pas.
4. Oseng Sambal Ayam Suwir, Si “Pedas Nampol” yang Jadi Pengikat Rasa
Sebagai pasangan penyuka pedas, rasanya kurang lengkap kalau meja kami tidak ada menu yang menantang lidah.
Akhirnya, saya dan suami memutuskan untuk menambah satu menu lagi di Dadar Beredar by Babe Cabita, yaitu Oseng Sambal Ayam Suwir.

Awalnya saya mengira ini hanya lauk pendamping biasa, tapi ternyata justru jadi kejutan yang mencuri perhatian.
Ayamnya disuwir halus dan dimasak dengan sambal pedas gurih yang sedikit berminyak,dengan tipe minyak cabai yang justru bikin nafsu makan meningkat.
Bumbunya meresap sampai ke serat ayam terkecil, memberikan rasa pedas yang konsisten di setiap suapan.
Saat saya campur dengan potongan telur dadar dan nasi daun jeruk, oseng ayam ini langsung bekerja sebagai “pengikat” semua rasa.
Ada sensasi gurih, segar, dan pedas yang meledak bersamaan.
Bagi kami, menu ini adalah pelengkap wajib; tanpa kehadirannya, pengalaman makan siang di Dadar Beredar mungkin tidak akan terasa sesempurna itu.
Harga “Naik Kelas” yang Tetap Masuk Akal
Setelah perut kenyang dan rasa penasaran tuntas, waktunya melihat apakah pengalaman di Dadar Beredar by Babe Cabita ini sebanding dengan harganya.
Untuk seporsi Telur Dadar Bakar Cumi, saya merogoh kocek Rp29.000, sementara Telur Dadar Bakar Paru dibanderol sedikit di bawahnya, yaitu Rp25.455.
Mengingat porsi telurnya yang tebal dan topping-nya yang banyak, bagi saya harga ini masih sangat masuk akal untuk kategori “telur naik kelas”.
Sebagai pelengkap pedas, Oseng Sambal Ayam Suwir yang kami pesan hanya seharga Rp11.818.
Untuk urusan karbohidrat, kami memesan dua jenis yang berbeda agar bisa saling mencicipi, yakni Nasi Jeruk seharga Rp9.091 dan dua porsi Nasi Putih total Rp10.910.
Jika ditotal, pengeluaran untuk makan berdua dengan menu selengkap ini terasa sangat worth it.
Tidak hanya sekadar kenyang, tapi ada kepuasan rasa yang sulit ditemukan di warung telur dadar biasa.
Gimana Tempatnya?

Begitu sampai di lokasi, mata saya langsung disambut oleh perpaduan warna putih dan kuning cerah yang menjadi ciri khas Dadar Beredar by Babe Cabita.
Kombinasi warna ini memberikan kesan tempat yang bersih, ceria, dan sangat terbuka.
Satu hal yang memudahkan pengunjung adalah daftar menunya.
Alih-alih hanya selembar kertas kecil, menu di sini terpampang jelas dan cukup besar, terukir manis di dinding yang bersebelahan langsung dengan area dapur.
Jadi, sambil mengantre, saya bisa dengan leluasa menimbang-nimbang mau pesan lauk apa tanpa harus berebut melihat buku menu.
Meskipun areanya tergolong nyaman, saya sarankan untuk menyiapkan diri jika datang tepat di jam makan siang, karena udara Cirebon yang terik membuat suasana di dalam agak terasa gerah.
Namun, hal itu sepertinya bukan masalah besar bagi para pengunjung yang sudah terlanjur antusias.
Untuk fasilitas pendamping, di sini juga sudah tersedia kamar mandi bagi yang ingin sekadar cuci muka atau bersih-bersih setelah puas berhadapan dengan sambal yang pedas.
Lokasi Strategis di Jantung Kota Cirebon
Jika kamu berencana mampir, Dadar Beredar by Babe Cabita ini berlokasi sangat strategis di Jl. Cipto Mangunkusumo No. 91, Pekiringan, Kec. Kesambi, Kota Cirebon.

Patokan paling mudahnya adalah outlet ini berada tepat di seberang Gramedia Cipto, jadi sangat mudah ditemukan meskipun kamu baru pertama kali keliling Cirebon.
Bagi kamu yang suka kulineran malam atau mendadak lapar di jam tanggung, tempat ini adalah penyelamat.
Mereka beroperasi selama 24 jam, jadi, baik untuk makan siang yang mengenyangkan maupun late night dinner setelah penat beraktivitas, telur dadar “naik kelas” ini selalu siap menyambutmu.
Kesimpulan
Dadar Beredar by Babe Cabita tidak butuh gimmick berlebihan atau plating yang rumit untuk memikat hati.
Semuanya terasa pas, mulai dari nasi yang aromatik hingga telur dadar yang diolah dengan penuh niat.
Tempat ini berhasil membuktikan bahwa menu sejuta umat pun bisa naik level tanpa harus kehilangan jati diri “merakyat”nya.
Ini adalah perpaduan antara kreativitas dan rasa yang nyaman di lidah, sangat cocok buat kamu yang ingin makan enak tanpa perlu ribet.
Bagi saya, makan di sini bukan cuma soal kenyang, tapi soal menikmati nostalgia telur dadar dengan sentuhan yang jauh lebih berkesan.
Jadi, siap membuktikan sendiri sensasi telur dadar yang naik kelas? Yuk, langsung agendakan makan siang atau makan malam kamu di Dadar Beredar by Babe Cabita Cirebon.
Jangan lupa, ceritakan pengalaman pribadi kamu makan di sini di kolom komentar ya. Happy kulineran!