Peran Travel Blogger dalam Menggaungkan Literasi Digital

Jika selama ini anggapan traveling hanya menghabiskan uang. Maka Anda harus memahami benar quote dari Augustine of Hippo. Menurutnya, Dunia itu diibaratkan sebuah buku. Mereka yang tidak suka bepergian hanya membaca satu halaman. Artinya, bagi tokoh terkemuka seperti Augustine yang jago dalam pemikiran filsafat memaknai seorang traveler dianalogikan sebagai pembaca. Dan destinasi yang dikunjungi adalah buku yang dibaca. Menarik, bukan?

Kalau boleh saya bilang, dalam setiap perjalanan yang dilakukan oleh traveler. Tujuannya lebih dimaknai untuk mengembara sekaligus menjelajahi dunia, dengan singgah dari satu daerah ke daerah lainnya adalah bagian dari pendidikan untuk hidup.

Oleh karenanya, seorang traveler yang diibaratkan sebagai pembaca buku tersebut, dia tidak hanya membaca buku dari kata pengantarnya saja. Melainkan meresapi sekaligus memahami isi cerita sampai akhir halaman buku agar dapat memetik setiap pelajaran yang disajikan dalam buku tersebut.

Dari sana para traveler akan kaya pengetahuan dan pengalaman dari perjalanan yang telah dilampauinya. Maka tidak salah jika ada quote lagi dari Ibn Battuta yang mengatakan, Bepergian, itu membuatmu tak bisa berkata-kata, kemudian mengubahmu menjadi pendongeng.

Nah, mencoba mengamati lagi dari kata bijak di atas. Pada kenyataannya, memang tidak sedikit traveler merasa speechless setelah melihat keindahan destinasi yang dikunjungi. Mereka tak mampu berkata-kata tetapi mereka mampu menuangkan rasa takjubnya dengan menulis di sebuah blog. Meski saya tahu, tidak semua traveler akan melakukan hal yang sama. Tetapi percayalah, mengabadikan perjalanan lewat tulisan di blog adalah cara terampuh untuk berbagi sekaligus belajar meningkatkan literasi digital masa kini.

Alasan Kenapa Travel Blogger Harus Menulis di Blog

Di abad 21, keterampilan literasi bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang urgensi. Karena dengan memahami literasi dengan baik akan sangat membantu generasi muda mampu bersaing secara global dan lokal. Mereka juga akan lebih siap menjadi generasi unggul yang memiliki semangat juang tinggi, solutif, kreatif dan inovatif.

Ini juga yang menjadi alasan saya kenapa seorang traveller harus mulai melirik media blog untuk mengabadikan perjalanannya lewat tulisan.

Dengan literasi menulis, traveler akan mendapatkan banyak manfaat. Salah satunya adalah ikut menggaungkan literasi digital dengan menyajikan informasi positif seputar destinasi. Lantas, apa manfaat lainnya? Simak, yuk!

1.Travel Blog Menjadi Media Bagus untuk Meningkatkan Literasi Digital

Singkatnya, literasi digital merupakan respon terhadap perkembangan teknologi dalam menggunakan media teknologi dan informasi untuk mendukung masyarakat memiliki kemampuan membaca serta meningkatkan keinginan masyarakat untuk membaca.

Nah, di sini travel blogger bisa mengambil peran sebagai Storyteller yang baik dalam menyampaikan destinasi-destinasi wisata yang pernah dikunjungi dengan gaya bahasa yang menyenangkan melalui blog.

Setidaknya dengan bercerita lewat blog, travel blogger telah membantu memberikan informasi yang valid karena Anda memang pernah berkunjung ke sana.

2.Memberi Semangat Ketika Tidak Bisa Traveling Lagi

Jujur, tahun ini sebagai titik balik kehidupan yang luar biasa. Mau nggak mau saya harus menahan ego untuk tidak traveling terlebih dahulu. Padahal tahu tidak, bekerja di rumah selama hampir 6 bulan bikin sesak. Hahaha

Maka, demi menjaga kewarasan kembali, saya mencoba membaca lagi beberapa cerita tentang perjalanan 20 jam ke Lombok di blog yang saya tulis di bulan maret tahun lalu. Yah, lumayan sih buat ngobatin kangen traveling lagi. hehehe

3. Menulis Membuat Kita Hidup Selamanya

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”(Pramoedya Ananta Toer)

Kata bijak di atas bisa dijadikan senjata pamungkas untuk traveler agar segera menulis traveling di blog. Karena memang benar, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Di mana saat jasad kita tak lagi di dunia, tetapi karya kita tetap dibaca oleh banyak orang.

“Mbak, kan blognya berdomain dan pake hosting. Kalau expired gimana?”

Tenang. Anda bisa mewariskan blognya kepada anak ataupun keluarga. Sampaikan pesan kepada anak atau keluarga lainnya jika Anda saat ini memiliki harta karun di blog. Dan ketika nanti Anda tak lagi bisa melanjutkan kelola blognya, anak dan keluarga adalah penerusnya. Sederhana, kan?

4. Membukukan Karya di Blog

Bukan rahasia lagi jika tulisan-tulisan Anda di blog bisa dijadikan karya fisik atau buku yang bisa dinikmati banyak orang. Sebut saja Trinity, traveler perempuan yang mengubah tulisan di blog menjadi buku.

Siapa sangka, yang katanya hanya cerita traveling sederhana ternyata mampu memikat banyak orang. Bayangkan, buku Traveling 3 Jilid yang ditulis dari blog oleh Trinity juga terjual ratusan eksemplar, lho.

Saya sendiri sebelumnya tidak pernah terpikir akan membuat blog dengan ceruk khusus traveling. Tetapi sejak menjadi blogger dan cukup sering ke luar daerah, maka saya nggak mau kehilangan kesempatan bagus ini.

Saya nggak tahu seberapa kuat tulisan saya bisa membawa manfaat untuk orang lain. Tetapi saya sangat percaya bahwa setiap tulisan akan menemukan jodohnya. Namun, sebelum bertemu jodoh pembaca yang klik, saya harus membranding diri dulu, kan?

Nah, travel blog saya yang diberi nama mywordsjourney.com ini merupakan personal branding yang sedang saya bangun saat ini. Jadi, berani jalan, berani hadapi tantangan dan bersenang-senang kemudian. Yeay!

Skill Menulis yang Harus Dimiliki Travel Blogger

Setelah paham kenapa seorang traveler harus memiliki travel blog. Maka, saya pun akan memberikan sedikit bocoran tentang skill menulis yang harus dipelajari. Emang penting ya?

Sangat penting. Saya sudah sedikit mengulasnya di atas, yakni berhubungan dengan literasi digital. Nah, salah satu memikat seseorang untuk gemar membaca di era digitalisasi ini, salah satunya adalah menulis dengan baik. Yang mana, tulisan tersebut mudah dipahami dan asyik dibaca.

Untuk membuat tulisan yang asyik dan mudah dicerna pembaca, travel blogger harus belajar teknik menulis yang baik. Nah, kebetulan banget tadi malam ada sharing dari mbak Gemaulani tentang Teknik Menulis dan Editing Blogpost, antara lain:

1.Memahami Tata Bahasa Indonesia dengan Baik

Travel Blogger harus memahami cara menulis sesuai kaidah tata bahasa Indonesia itu penting. Bisa dikatakan pemahaman tentang EYD menjadi modal dasar seorang travel blogger untuk terus mengasah skill menulis. Adapun manfaat lain yang disampaikan oleh Mbak Gilang dari tahap penyempurnaan EYD ini adalah:

  • Lebih mudah menentukan jenis tulisan
    Membuat Outline lebih memudahkan untuk menulis blogpost
  • Mampu menyusun kalimat dalam paragraf dengan tulisan lebih terstruktur
  • Memahami Penulisan Huruf Kapital
  • Memahami tentang penulisan partikel, kata ganti, kata depan dan kata turunan
  • Memahami Kata Hubung
  • Peletakan dan penggunaan tanda baca

2. Proses Editing

Dalam proses editing, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti pemeriksaan ulang perihal salah ketik (Typo), Spasi atau enter, kesinambungan kalimat, dan penulisan huruf kapital.

Memahami Makna Literasi Digital

Bukan rahasia lagi jika negara Indonesia dikatakan sebagai darurat literasi digital. Hal ini dibuktikan dengan banyak munculnya fenomena penyebaran berita hoax melalui internet.

Demi mencegah masalah ini berkelanjutan, maka sangat penting adanya edukasi kepada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda untuk lebih selektif dalam menerima informasi dari mana saja. Selain itu, penting juga untuk masyarakat mulai belajar literasi digital lebih mendalam.

Lantas, sebenarnya apa sih yang dimaksud literasi digital?

Sebenarnya saya sudah membahasnya di paragraf bagian atas. Tetapi saya harus mengulas lagi pengertian literasi digital secara gamblang supaya tidak menimbulkan salah paham.

Menurut Paul Glister di dalam buku berjudul Digital Literacy, LITERASI DIGITAL diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber sangat luas yang diakses melalui piranti computer.

Lalu seiring perkembangan waktu, definisi tersebut mengalami penyempurnaan dari Bawden yang menyatakan bahwa literasi digital berakar dari literasi computer dan literasi informasi. Yang mana kita bisa lihat buktinya sekarang ini dari perkembangan internet yang semakin hari bertambah maju.

Tantangan dan peluang Literasi Digital

Dengan jumlah pengguna internet tertinggi justru Indonesia mengalami tantangan dalam hal membudidayakan literasi digital. Pemerintah harus mulai memikirkan cara apa yang tepat untuk menyimbangkan antara pengguna internet yang membludak dengan literasi digital. Cara apa yang tepat dan terbukti untuk mengatasi penyebaran hoax.

Sementara peluang dari literasi digital adalah meningkatkannya penghasilan dari bisnis melalui e-commerce, banyak peluang pekerjaan yang bisa didapatkan hanya melalui media sosial, serta kemampuan literasi bisa dipupuk lebih mendalam melalui digital.

Artinya, tanpa menegaskan belajar literasi lewat teks atau buku. Kita akan mahir dengan sendirinya. Nah, contoh paling mudah dilakukan sekaligus dipraktikkan secara cepat adalah kegiatan menulis di blog pribadi.

Peran Travel Blogger dalam Literasi Digital

Pasti Anda bertanya apa peran travel blogger dalam literasi? Memang ada hubungannya?

Jelas ada. Karena secara tidak langsung, blogger saat ini menjadi salah satu profesi yang cukup jadi sorotan di abad 21 ini. Tak pandang apa pun ceruk tulisan yang diambil. Apakah si blogger mengambil tema lifestyle, traveling, beauty, dan lainnya. Mereka tetap menjadi garda terdepan yang bisa membawa perubahan lebih baik dalam literasi.

Lantas, apa peran travel blogger?

  • Travel blogger berperan menjadi seorang Influencer yang mampu memengaruhi orang lain dengan kata-katanya, terkhusus bercerita tentang destinasi wisata, sejarah suatu tempat, kuliner, dan tentang traveling lainnya.
  • Travel blogger berperan menjadi storyteller atau pendongeng yang bisa mengikat literasi digital dengan tutur bahasa yang apik dan terstruktur
  • Travel blogger berperan ibarat map digital yang mampu mendiskripsikan secara detail tempat-tempat yang pernah dikunjungi
  • Travel blogger berperan menjadi educator yang mengajak para generasi milenial mengingat kembali dengan sejarah suatu tempat melalui tulisan
  • Travel blogger mengajak mengenalkan kembali melalui tulisan tentang cagar budaya yang telah banyak dilupakan

Lima peran di atas hanya sebagian kecil tugas travel blogger meningkatkan literasi digital di Indonesia. Selebihnya, banyak hal yang bisa dilakukan oleh travel blogger dengan menulis di blog. Yang tentunya  menyenangkan dan membawa manfaat untuk banyak orang.

Malica Ahmadhttps://www.mywordsjourney.com
Menulis dan perjalanan adalah dua hal yang akan bermuara pada satu titik. Yaitu bagaimana jati diri seseorang ditemukan.

Related Stories

Discover

Pesona Laskar Pelangi di Pantai Tanjung Tinggi Belitung

Hai, Traveler ... Tahukah Anda bahwa pantai Tanjung Tinggi Belitung merupakan lokasi syuting film laskar...

Asyik dan Menantang! Inilah 5 Tempat Camping di Malang...

Kota Malang di Jawa Timur terkenal indah dan dingin. Orang-orang yang tinggal di sekitar...

5 Hal Menarik di Balik Kisah Mistis Gunung Argapura...

Mendaki adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan. Meski medan pendakian tidak mudah, rasanya bukan masalah...

SERUNYA 20 JAM BERLAYAR KE PULAU LOMBOK DENGAN KAPAL...

Hola, Travelers! Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman seru bersama keenam travel blogger naik...

WAE REBO, KAMPUNG DI ATAS AWAN UNIK DAN MENAWAN

Kau mainkan untukku Sebuah lagu tentang negeri di awan Dimana kedamaian menjadi istananya Dan kini tengah kaubawa Aku...

Wajib Tahu! Ini 5 Rahasia Menarik Blue Fire di...

Hola, Travelers! Sudah pernah berkunjung ke Banyuwangi? Rasanya belum lengkap jika ke Banyuwangi, Anda tidak...

Popular Categories

Comments

  1. Wah,membaca tulisan ini jadi bikin saya makin semangat buat ngisi blog lagi nih. itung-itung ikut meningkatkan literasi digital. Thanks ya mbak sudah diingatkan.

    sukses selalu 👍

  2. Keren, mba. Jadi menginspirasi. Kebetulan saya lagi ke palembang, tinggal di sini utk beberapa waktu. Semoga pulang nanti bisa menuangkannya dlm bentuk cerita di blog saya.

  3. Wow, menarik sekali ya, Mbak Malica. Melakukan perjalanan ke berbagai kota dan negara memang sebuah hal menantang dan kita bisa menjelajah bagian dari bumi Allah yang lain. Pernah kepikiran seperti itu ketika nanti anak-anak sudah mandiri semua 😍

    Tulisan ini menginspirasi sekaligus membuka wawasan, ditunggu tulisan dan cerita travellingnya yang lain 😍

  4. Melalui sebuah tulisan banyak manfaat yang didapat ya mbak. Berbagi pengalaman serta pengetahuan, apalagi kondisi sekarang yang bikin kita mau ga mau banyak diem dirumah. Makasih artikelnya, bikin mata makin melek soal literasi digital juga travel blogger.

  5. Wah, baru tahu nih kalau literasi digital sangat urgensi. Makin melek jadinya. Tapi aku juga tertampar dek sebagai seorang penulis. Seenggaknya aku juga wajib menggaungkan literasi digital juga ya. Selama ini baru dipraktikkan ke anak saja untuk memahami literasi digital.

    Semangat, Dek, makin hari makin keren semoga bisa mengikuti jejaknya.

  6. Info-info yang berkaitan dengan traveling selalu dibutuhkan dan yang ditulis dengan baik akan menjadi panduan/referensi traveling yang menyenangkan. Inspiratif sekali, Kak. Semangat terus menulis dan membagikan informasi menarik seperti ini.

  7. Membaca tulisan bu Malica, membuat saya jadi
    bersemangat dan termotivasi menulis Blog, mengingat
    saya juga hobi traveling sembari berburu kuliner.
    Semoga tahun ini bisa memulai menulis blog.

  8. Aihh mba mulia sekalii dirimuu. Bahkan sampai ke mengenalkan cagar budaya. Aku jadi minder orrientasi ngeblogku kayaknya perlu ditata ulang kayak gini dehh hehe

  9. Aku juga nih gara² jalan-jalan jadi menulis deh. Ada bbrp artikel blog, artikel jalan².
    Semoga sih dengan menulis yg baik dan informatif turut meningkatkan literasi digital sekitar kita….

  10. Wah, kebetulan banget kemarin ini lagi berpikir mau jadi travel blogger. Eh, dapat artikel yang ciamik kayak gini >_< Makasih, Mbak. Karena sudah membuka kembali pikiranku untuk menjadi travel blogger. Sukses selalu ^^

  11. benar mbak. menulis membuat kita hidup selamanya. buat yang suka nulis kayak saya ngena banget pepatah itu. apalagi buat blogger yang kerjaannya emang nulis. jadi ya harus menguasai pakem dalam tulisan ya. semangat mengembangkan literasi digital lewat tulisan mbak.

  12. Ini cita-cita belum kesampaian. Bisa jalan-jalan sambil dijadikan conten blog.

    Thanks infonya tentang literasi digital ya mbak. InsyAllah lebih melek dan mau ikut juga meningkatkan.

  13. Menulis itu seperti kita dengan sadar membuat jejak catatan keberadaan kita selama didunia ya mbak, apalagi kalau menggunakan media digital seperti blog , rasanya seperti kita mengukir jejak digital diri sendiri. Nah dibantu dengan literasi digital supaya kita dapat menulis berdasarkan fakta dan data wah tambah bagus pasti tulisan kita. semangat ya mbak selalu memberi inspirasi lewat tulisan

  14. Suka banget dengan poin Menulis Membuat Kita Hidup Selamanya. Ini nih yang membuat saya merasa bersyukur banget bisa menjadi seorang blogger karena bisa mengabadikan hidup saya lewat tulisan-tulisan di blog. Termasui tulisan about perjalanan meski saya bukan travel blogger tapi karena punya niche lifestyle dan menulis juga tentang travel jadi merasa tercerahkan juga di postingan mengenai pentingnya literasi digital bagi travel blogger ini

  15. kalo abis baca tulisan dari travel blogger kadang makin bertambah tempat yang mau dijajaki. Selain itu, pernah juga dapet info bermanfaat mengenai jumlah pakaian yang bisa dibawa kalau bepergian ke suatu negara. Biar enggak over barang di bagasi. Dan itu kepake pas sempet tugas ke luar.

    Dan ternyata, siapa yang menyangka bisa juga aktivitas travel blogger membantu literasi digital.

  16. Dengan adanya travel blogger bikin kita yang gak bisa ke mana mana berasa ikut keliling ke semua tempat yang diceritakan. Semoga saat ada waktu dan kesempatan bisa terwujud secara nyata. Kerenlah traveler blogger tuh. Sangat menginspirasi.

    Semangat menggaungkan literasi digital supaya generasi kita makin cerdas ya. Terima kasih atas tulisannya, Malica.

  17. Menjadi travel blogger itu sangat menyenangkan. Bahkan kalau boleh jujur, menuliskan cerita traveling membuat saya seperti jalan2 lagi. Mengingat serunya cerita perjalanan membuat saya lebih hidup lagi. Apalagi ditambah aktivitas travel blogger di blog bisa meningkatkan literasi digital. Jadi makin seru ya mbak.

  18. Saya setuju sekali kalau blogger memang harus memahami tata bahasa dengan baik. Ya, meskipun kebanyakan blogger itu menulis bebas, kalau tata bahasanya baik, pembaca jadi mudah memahami. Artinya, literasi digitalnya berjalan dengan baik juga

  19. Travel blogger itu ibaratkan membuat kenangan dalam bentuk tulisan bagiku. Wahhh,panutannn sekali tulisannya Mba. Banyak hal yang aku juga perlu memahami. Sebagai blogger yang suka traveling. hihihi

    Terlebih, jika dari jalan traveling dan menjadi travel blogger bisa sangat membantu meningkatkan literasi digital. Pasti akan seru sekali.

  20. Aq suka ungkapan, menulis membuat kita hidup selamanya.
    Makanya aq suka menulis mbak, apapun itu biarpun nggak berguna untuk orang lain, setidaknya sebagai pengingat saat tua nanti. Syukur dari menulis di blog yang aku kelola sekarang bisa membantu kemajuan literasi digital di Indonesia ya.

  21. Kalau buqt saya pribadi, apapun yang saya alami maunya dituliskan. Sejauh ini alhamdulillah banyak yang sudah tertuang di blog. Apalagi kalo bisa travelling, harus dan wajib banget ditulis. Itung-itung ikut meningkatkan literasi digital, ya, mbak.

    Saya juga jadi Senenggg gitu membaca lagi perjalanan-perjalanan kemarin-kemarin. Ada kepuasan tersendiri punya sejarah untuk diri sendiri. Btw saya juga suka banget dengan quotenya Pramoedya yang ini.

  22. Tulisan yang keren banget. Membaca tulisan ini saya jadi sadar, saya baru sampek halaman pertama sebuah buku. Setelah pandemi wajib traveling ini…😚
    Biar diakui sebagai blogger yang syukur-syukur bisa ikut meningkatkan literasi digital ya mbak.

    Teruslah menginspirasi mbk…

  23. Sebenarnya saya sangat tertarik untuk mengeksplor setiap pelosok daerah, baik lokal maupun mancanegara, tapi apalah daya, isi dompet gak memungkinkan, jadinya saya hanya traveling di daerah yang dekat rumah saja. Dan ini menurut saya cukup bagus sebagai langkah pembuka, daripada tidak sama sekali, begitu pikir saya. Nah ada temen saya nih, yang sudah melanglang buana keliling dunia, eh tapi sayangnya penglaman travelingnya gak ditulis di blog, dia bilang gak bisa nulis. Akhirnya saya ajarin bikin blog, supaya punya rekam jejak digital, tapi sampe sekarang belum mulai nulis juga. Sayang banget, padahal kalo nulis artikel sekali perjalanan, bisa sampe 3-4 artikel.

  24. Bukan hanya sekedar menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Seharusnya kita menemukan sesuatu yang kita petik dari setiap tempat yang kita kunjungi. Sehingga setelah menuliskannya, itu bukan hanya menjadi sebuah kenangan. Tapi pelajaran yang bermakna sekali. Keren dah.

  25. Jadi informan di jaman serba digital.
    Peran yang sudah pada jamannya tapi sedikit yang menyadari.

    Traveller maupun pecinta kuliner bisa jadi sumber tulisan, semisal dirinya nggak mau/mampu menuliskan. 👍👍

  26. Waahh keren², sangat bermanfaat mba artikelnya..
    Terima kasih sharingnya..

    Aku masih dlm tahap belajar niih buat nulis ttg jalan² gini, rasanya masih kurang puas kl baca utk diri sendiri, wkwkwk

  27. Dulu saya melihat pendongeng itu sepertinya hal yang mudah, tinggal mendongeng aja terus anak-anak tepuk tangan karena saking senengnya didongengin. Tahun berganti tahun saya mencoba mendongeng untuk anak-anak disekitar masyarakat rumah, ternyata gak mudah. Lalu berganti tahun lagi, membaca artikel tentang travel blogger, ada yang tulisannya berkesan dan tidak. Tapi saya percaya semuanya membutuhkan proses yang tidak instant. Apalagi di era sekarang ini digitalisasi sungguh berperan sekali, menjadi pendongeng didunia digital ini ternyata membutuhkan kuantitas dan kualitas diri untuk meracik resep yang ciamik ya mom.

  28. budaya literasi di Indonesia katanya masih sangat rendah, baik literasi digital maupun non digital. tantangan besar nih untuk para travel blogger mengambil peran untuk sumbangsih di literasi digital. tulisan travelling yang mencerahkan dan menggugah akan berperan besar dalam membentuk dan mendorong netizen untuk melakukan hal yang sama. bravo semangat terus yaa travel blogger

  29. Mba Malica aku auto buka laptop setelah baca tulisan ini..kemarin habis dari Mojokerto, karena capek nggak segera aku tulis. Padahal manfaatnya banyak banget ya, kalo setelah pergi kita tulis di blog. Yuk, semangat nulis lagi 2021 🙂 jangan kasih kendor isi blog 🙂

  30. Akuh akuh… ya akuh , akuh adalah penikmat blogger yang isinya traveling… kayak bisa melanglang buana kmana2 🙂 ingin rasa ikutan tapi apa daya harus stay…
    lah jadi curhat haha.. tetap semangattt

  31. Travel blogger emang racun. Baca ulasan sebuah perjalanan di travel blog itu emang berpengaruh banget untuk meningkatkan jiwa-jiwa wanderlust. Cerita inilah yang sekarang menarik banyak pembaca. Jadi udah fix lah travel blogger emang salah satu kunci untuk mengkampanyekan literasi digital.

  32. Keren…tulisannya sangat menginspirasi sekali, Mba.

    Semoga saya bisa membaca semua halaman (destinati wisata) dan menuangkannya dalam Blog Pribadi saya… aamiin 😀

  33. Aku suka lho tulisan perjalanannya mbak Malica, kayak jalan bareng ke tempat yang diceritakan. Setuju sekali soal literasi digital mesti dimiliki semua orang termasuk traveler

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here