Setumpuk Cinta untuk Indonesia dari Bumi Toraja

Sihir itu dimulai dari Terbitnya Sang Surya di Hotel PiAs Poppies, Rantepao

Selamat datang Land of the Heavenly Kings di Toraja Utara. Antara percaya dan tidak, nyatanya inilah kekuatan kata-kata yang saya tulis di blog pada bulan Juli lalu saat mengikuti lomba Toraja Highlands Festival.

“Saya ingin menjejakkan kaki ke Toraja suatu hari nanti. Entah bagaimana caranya, bismillah saja dulu. Semoga Allah kasih jalan.”

Doa saya terjawab. Keajaiban telah bekerja dengan caranya. Hingga tepat pada tanggal 4 Oktober pukul 05.09 WITA, rasa takjub menyeruak saat melihat sang surya mengintip malu di antara dua bangunan gedung megah, yang di belakangnya adalah hotel Pias Poppies yang terletak di Rantepao, Toraja Utara.

Penginapan bergaya klasik dengan corak khas Toraja yang nantinya akan menjadi tempat saya dan teman-teman blogger serta fotografer singgah sampai 5 hari lamanya.

Sembari mendengarkan lagu Im leaving on a jet plane yang ditulis oleh John Denver pada tahun 1966, saya memanggul ransel warna hitam, berjalan penuh semangat menuju kamar di lantai dua.

Jujur, suasana hotel dan lagunya memicu hormon andrenalin sehingga membuat jiwa traveling saya meronta ingin segera menjelajah kota Toraja Utara, di mana pesona budaya, adat istiadat, juga sarat lokalitasnya mendunia sejak lama.

Baca juga: Pengalaman Pertama Snorkeling di Kodingareng Keke, Makassar

Ada dan Tiada: Menguak Kematian dalam Budaya Toraja

Unik dan megah.

Kesan pertama saya ketika melihat banyak orang duduk bersila, memakai busana berwarna hitam sedang berada di dalam Tongkonan. Disusul suara syair merdu saling sahut menyahut yang bahasanya cukup asing di telinga.

Tak lama, muncullah seorang bapak tua memakai pakaian berwarna merah, sorban warna putih tersampir di bahu kanannya, songkok berwarna hitam menutup kepala, keluar dari sebuah Tongkonan Layuk yang berdiri kokoh di antara Tongkonan-tongkonan lainnya.

SETUMPUK CINTA UNTUK INDONESIA DARI BUMI TORAJA
Sumber foto:@agustinuselwan

Berjalan sedikit membungkuk di mana tangan kanannya dipapah oleh tongkat.Tepat di belakangnya diikuti oleh para perempuan memakai baju warna hitam, sebagai penanda duka, sambil menyangga nampan berisi makanan dan minuman.

Katanya, ini adalah upacara kematian atau Rambu Solo’ yang merupakan adat istiadat di Toraja.

Menurut suku Toraja yang menganut kepercayaan Aluk Tadolo’, kematian bukanlah penghabisan. Kematian bukanlah akhir bahwa manusia tak lagi dikenang di dunia. Sejatinya orang yang sudah tutup usia, baik dalam hitungan beberapa tahun lamanya masih dipercaya ikut menemani kehidupan kerabatnya yang masih hidup.

Oleh karenanya, keluarga yang masih hidup memiliki kewajiban untuk merayakan ‘pesta terakhir‘ sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada arwah yang akan menuju ke alam puya. Tempat tertinggi keabadian.

TORAJA Highlands Festival
Jenazah Damaris Pasa’ disimpan di Tongkonan Layuk. Adalah Tongkonan yang dibangun pertama kali di suatu tempat sebelum Tongkonan lainnya

Damaris Pasa namanya. Di masa hidupnya, beliau memiliki karakter yang sangat baik kepada siapa saja, tutur Daud Pangarunan.

Kami tidak pernah menganggap beliau meninggal. Karena sampai detik ini, saya sebagai kerabatnya masih merasa beliau berada di antara kami, lanjutnya. Buliran bening menetes dari kedua pelupuk matanya tanpa dia sadari.

Terenyuh. Ternyata begitu dalam makna sebuah kematian. Bukan soal dikubur dan menguburkan. Lebih dari itu, jenazah tidak akan merasakan ketenangan sebelum ritual adat istiadat belum dilaksanakan dengan lengkap.

Tak berhenti di sini, saya dan rombongan sempat menanyakan apa fungsi dari hewan kerbau dan babi yang ada di ritual siang itu.

Daud pun menuturkan bahwasannya Kerbau menjadi hewan penting di acara adat Rambu Solo’. Kerbau-kerbau itu nggak asal disembelih. Ada prosesnya yang harus dilakukan sesuai adat. Seperti penyembelihan kerbau harus menggunakan pisau kecil atau parang di mana sekali tebas, Kerbau langsung mati.

Toraja Highlands Festival
Sumber foto: @muhammadsafei

Selain kerbau ada juga babi. Dan konon, babi juga menjadi hewan penting di acara adat ritual pemakaman tersebut dimana difungsikan sebagai daging yang dibagi-bagikan untuk dimakan.

Nah, adanya babi dan kerbau yang cukup banyak di sana menjadi salah satu rangkaian ritual yang wajib ada di upacara adat Rambu Solo’ atau lebih dikenal dengan sebutan Mapasa Tedong, yang mana nanti juga akan ada proses lanjutan penyembelihan hewan-hewan penting tersebut di hari berikutnya.

Proses penyembelihan pun memiliki nama, yakni matinggoro tedong di mana waktu itu dilaksanakan pada hari ketiga kunjungan di Lolai, Toraja Utara.

Oh ya, sempat juga bertanya, apakah ada waktu khusus untuk pelaksanaan ritual Rambu Solo’?

Daud Pangaruang menjelaskan bahwasanya ritual adat Rambu Solo’ ini setiap desa memiliki cara yang berbeda-beda, namun untuk waktu kapan yang tepat adalah sesudah pukul 12 siang ketika matahari mulai bergerak menurun.

Mendengarkan pemaparan tersebut, juga melihat betapa megah upacara Rambu Solo’, yang pastinya butuh biaya mahal.Maka saya pun percaya jika Kerbau di Pasar Bolu yang saya temui itu harganya nggak main-main. Berapa? Bisa saja yang termahal sampai miliaran!

Kete Kesu, Adat Budaya dan Kehidupan Orang mati di Toraja

Rasa penasaran saya belum terpuaskan pada hari pertama acara Rambu Solo’ di Lo’lai. Sempat berpikir, ke mana kah mayat yang disimpan di Tongkonan megah itu akan dikuburkan?

Akhirnya terjawab ketika rombongan blogger dan fotografer datang ke Kete’ Kesu.

Kete’ kesu merupakan salah satu wisata di Toraja, terletak di desa Bonoran, Toraja utara yang berada di sekitar 4 kilometer dari kota Rantepao.

Toraja Never Ending Story
Foto di tengah-tengah Tongkonan di Kete’ Kesu (Taken by @putrisantoso)

Desa ini terkenal dengan rumah adat Tongkonan, berjajar berhadapan dengan lumbung padi (Alang Surayang) yang berusia ratusan tahun dan diwariskan turun temurun.

Tongkonan itupun cukup unik di setiap ukiran kayunya. Ada tanduk kerbau berderet di tiang bagian depan. Tentu ada makna di baliknya. Nanti saya pun akan mengulasnya.

Bagian menarik lainnya di Kete’ Kesu saya temui ketika berjalan di belakang Tongkonan. Di sana ada pasar kecil yang menjual bermacam-macam asesoris khas Toraja, kain Toraja, topi dan pernak-pernik lainnya.

Menuju ke belakang lagi dengan melewati alur jalan yang menurun ke bawah, saya diantarkan ke arah tebing batu. Sebelum naik ke atas, akan tampak bangunan besar menyerupai rumah dengan patung di depannya. Inilah salah satu kuburan modern di Toraja. Namanya Patane.

Patane adalah sebuah kuburan modern yang dibangun sebelum anggota keluarga meninggal dan yang boleh memasuki kuburan tersebut hanya khusus keluarga saja.

Berjalan kembali ke arah kanan, saya menaiki beberapa anak tangga menuju kuburan di atas tebing. Di situ saya mendapati beberapa makam berupa peti kayu yang sudah usang. Diletakkan di dinding tebing yang sudah dilubangi, dan ada juga yang digantung di atas.

Sumber foto: @agunglawerissa

Nah, peti kayu itu disebut Erong. Berbentuk runcing, serupa dengan perahu dan merupakan bentuk kuburan orang Toraja paling awal di zaman dahulu.

Filosofinya, semakin tinggi peti kayu digantung, maka dikaitkan lagi dengan tingginya derajat dalam sebuah masyarakat di Toraja.

Dipercaya pula oleh masyarakat Toraja yang menganut kepercayaan animisme dulunya, kuburan gantung yang diletakkan di posisi tertinggi, maka semakin dekat dengan nirwana.

Saya juga sempat mengambil gambar bersama tau-tau yang terletak di sisi tebing. Tau-tau atau aksesoris replika orang yang meninggal di Toraja. Replika orang tersebut terbuat dari pahatan kayu yang dibuat semirip mungkin dengan sosok yang sudah meninggal.

Sumber foto: @agunglawerissa

Jika di masa hidupnya, misal si perempuan suka memakai perhiasan, maka patung replikanya pun akan dihiasi perhiasan.

Baca juga: Keunikan Rumah Dinas Walikota Solo, Lojigandrung

Loko Mata, Kuburan Raksasa di Gunung Sesean

Berbeda dengan pemandangan perbukitan pada umumnya, Batutumonga memadukan keindahan alam desa di atas awan di lereng gunung tertinggi di Toraja, gunung Sesean dengan rumah tradisional Tongkonan.

Saya pun dibikin takjub seolah berada di rumah hobbit di New Zealand ketika kedua netra terfokus pada batu besar di sebelah kiri jalan. Loko Mata, begitu sebutannya.

Loko’ mata berada pada ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut

Sebuah makam batu yang dipahat oleh masyarakat Toraja. Loko mata sendiri mempunyai arti lubang. Jadi, lubang tersebut dibuat seukuran peti.

Kemudian, jenazah dimasukkan ke sana, lalu dikunci. Kunci tersebut tidak boleh dibuka kecuali ada acara ritual bersihkan jenazah untuk menghormati para leluhurnya atau disebut Ma’nene.

Makam Goa Londa, Keindahan Alam Berbalut Tradisi Leluhur

Tradisi leluhur Toraja masih sangat kental. Terlihat jelas dari adanya makam Goa Londa yang menjadi tempat penyimpanan jenazah khusus keturunan leluhur Toraja. Terletak di perbatasan Makale dan Rantepao, tepatnya di desa kecil bernama Sandan Uai.

Saat ke sini, saya dan Aray, diantarkan oleh salah satu pemandu wisata Londa. Tadinya kami tidak membutuhkan tour guide. Tetapi berdasarkan informasi di pintu masuk, Goa Londa ini gelap, lalu langit-langit goa batunya cukup runcing.

Jadi kita pun membutuhkan obor untuk penerangan sekaligus tour guide sebagai penunjuk arah.

Erong disimpan di dalam goa Londa. Keluarga membawakan kebutuhan seperti rokok dan lainnya. Dan Goa ini tampak menghubungkan akhirat dengan dunia orang hidup

Saat memasuki area Goa Londa, saya merasakan aroma kematian menguar pekat. Beberapa keranda pengantar jenazah tergeletak berserakan di depan Goa. Lalu barisan Tau-Tau yang sekilas tampak hidup sempat membuat bulu kuduk merinding.

Sesampainya di mulut Goa pun demikian, kami disambut oleh tulang-tulang tengkorak berserakan. Erong yang tergantung di dalam gua juga tampak usang sehingga menambah kesan mistis.

Menurut cerita, kuburan Londa ini termasuk kuburan tua di Toraja dan khusus untuk bangsawan. Jadi ketika melihat banyak tau-tau dengan pakaian berbalut perhiasan mewah di atas tebing, artinya mereka dulunya adalah keturunan raja.

Saling menghidupi meski sudah mati. Ini yang saya katakan, ketika tahu bahwa orang toraja tidak memakai tanah sebagai kuburan. Tanah bisa dimanfaatkan anak cucu yang masih hidup, jelas si bapak, tour guide kami di Goa Londa. 

Baca juga: Pesona Laskar Pelangi di Pantai Tanjung Tinggi Belitung

Denyut Nadi Orang Toraja ada di Tongkonan

Sumber foto: @agustinuselwan

Sekilas bangunan Tongkonan hanya nampak seperti hunian yang terbuat dari kayu. Tetapi siapa yang tahu jika rumah adat ini, sejak tahun 1937 sudah memiliki fungsi yang disakralkan oleh orang Toraja.

Sejak dahulu, rumah adat Toraja ini telah dijadikan sebagai kekuasaan adat, perkembangan budaya, pusat sosial, pusat dominisator, kegotongroyongan dan motivator, sehingga inilah yang menyebutkan bahwa Tongkonan tidak sekadar rumah, di mana seluruh keluarga berkumpul dan bermusyawarah. Lebih dari itu, Tongkonan merangkul seluruh aspek kehidupan di Toraja.

POTRET fungsi Tongkonan seperti di atas itu, saya temukan di desa Palawa’, kecamatan Sesean.

Sekilas bangunan Tongkonan itu terlihat sama dengan yang ada di Kete’ Kesu. Tetapi setelah ditelisik lebih jauh,Tongkonan di desa Pallawa lebih tua. Jelas terlihat dari warna ukirannya sudah memudar. Atap-atapnya juga mulai ditumbuhi tanaman liar.

Maka, tak salah jika desa Palawa’ didaulat sebagai wisata desa bersejarah karena ada Tongkonan tertua yang masih berdiri kokoh dan masih terawat dengan baik.

“Kalau Tongkonan yang tua itu, kami menyebutnya Tongkonan Layuk,” tutur sang Ibu.

“Tongkonan Layuk adalah jenis rumah adat yang pertama kali menjadi pusat pemerintahan dan kekuasaan di zaman dulu,” lanjutnya.

Semakin tahu membuat saya ingin lebih banyak tahu lagi. Hingga saya pun mencoba menelisik setiap sudut bagian yang ada di Tongkonan di desa Palawa’ itu. Misal kepala dan tanduk-tanduk kerbau yang terpampang jelas di garda depan rumah adat Tongkonan. Yang ternyata memiliki filosofi unik dan mengaggumkam.

Kepala kerbau sebagai simbol kekuasaan. Sementara ornamen tanduk kerbau melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah saat upacara penguburan keluarga atau rambu Solo.

Sumber foto: @agustinuselwan

Yang membuat saya kaget luar biasa, ternyata begitu seseorang yang meninggal di dunia tidak langsung dimakamkan. Mereka menganggap jenazah itu adalah orang yang sakit, sehingga mereka menyimpannya di dalam ‘Tongkonan’ atau rumah. Lalu merawatnya layaknya orang yang masih hidup.

Mayat tidak pernah ditinggalkan sendirian. Ruangan tidak pernah dibiarkan gelap. Jenazah  akan dirawat dengan sangat baik hingga waktunya keluarga bisa melaksanakan ritual Rambu Solo’.

Setelah proses penghormatan terakhir berakhir, maka jenazah yang sudah disimpan di dalam Tongkonan itupun baru akan dikuburkan. Proses penguburan mayat bisa di patane, kuburan gantung, atau di Goa.

Keunikan lain dari Tongkonan adalah atapnya membentuk seperti perahu, ternyata menjadi pengingat bahwa leluhur masyarakat Toraja, dulunya menggunakan perahu untuk sampai di Sulawesi.

Melihat beragam keunikan dan filosofi di atas, pemerintah pun menyadari potensi budaya pada Tongkonan ini, akhirnya pada tahun 2014 ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda yang masuk di bagian domain kemahiran dan kerajinan tradisional.

Titipkan Asa Lewat Pa’piong Bo’bo Nasi dan Pantollo Pamarassan

Bagi saya, traveling dan kuliner adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Rasanya ada yang kurang jika kita hanya bisa mewujudkan salah satu dari dua aktivitas tersebut di atas.

Beruntung, ketika saya berada di Toraja, selain bisa eksplor eksotisme budaya dan tradisinya, saya juga mencicipi kuliner khas yang lezatnya tak terbantahkan.

Tepatnya di desa Tikala saat menghadiri acara Rambu Tuka’ (Upacara sukacita atau syukuran), saya mendapat kesempatan menikmati hidangan khas Toraja, yaitu Pantollo Pamarassan dan Pa’piong Bo’bo Nasi.

Pantollo Pamarassan merupakan kuliner khas Toraja yang diolah menggunakan bumbu utama  pamarrasan atau kluwak hitam.

Jika di Jawa kluwak dijadikan bahan rempah untuk masakan rawon. Berbeda dengan di Toraja, kluwak dijadikan sebagai sayuran atau pange (kluwak dikeringkan). Biasanya sayur ini dimasak dengan ikan, daging babi, kerbau, maupun belut.

Nah, karena si ibu tahu saya adalah Muslim, maka beliau pun menceritakan proses memasaknya, juga memberitahu saya jika Pamarassan ini dicampur dengan Ikan Mas. Jadi, halal.

Tanpa ragu, saya bergegas menyantapnya. Dan kesan pertama setelah satu kali suapan, saya pun berkomentar, “Masakannya autentik.”

Yah, sekeren itu Toraja. Masyarakatnya ramah, kaya akan adat istiadat, pun kulinernya memanjakan lidah.

Setelah puas menikmati Pantollo Pamarassan bersama warga lokal di Tikala. Hidangan kuliner lainnya pun disajikan.

Sebut saja Pa’piong Bo’bo Nasi. Kuliner yang cukup unik menurut saya. Terbuat dari beras yang dicampur dengan beberapa bumbu. Cara memasaknya, dibungkus dengan daun pisang, lalu dibalut dengan bambu, baru dibakar. Sehingga saat dibuka, bambunya menguarkan aroma sedap daun pisang yang memikat.

Rasanya yang gurih membuat saya ingin nambah lagi. Sayang, saya tak cukup nyali untuk meminta lagi.

Oh ya, menurut info yang saya dapat, kuliner Pa’piong Bo’bo Nasi ini dihidangkan saat memperingati acara pernikahan atau syukuran.

Kebetulan waktu itu, kami berkunjung ke Desa Tikala, prosesi Rambu Tuka’ digelar. Saya pun menitipkan asa, semoga kelezatan Pa’piong dan Pamarassan menarik saya kembali ke Toraja.

Mengeja Makna Syukur di Atas Stone Forest Tangrante dan Negeri di atas Awan, Tongkonan Lempe

Potret kota Rantepoe diambil dari Lo’lai, Negeri di atas Awan (Sumber foto: @Agustinuselwan)

“Jangan mati sebelum ke Lo’lai” begitulah ungkapan yang digemborkan beberapa orang yang sudah menikmati keindahan Tongkonan Lempe, Lolai. Hamparan awan putih bergulung bak samudera di puncak pegunungan seakan berada di negeri atas awan.

Hati saya berdesir saat mengeja asma-Nya, juga menganggumi segala ciptaan-Nya yang luar biasa indah.

Tersaji dengan begitu nyata ketika tersadar saat itu berada di ketinggian 1300 meter dan melihat Pemandangan Tongkonan di Rantepao tetap berdiri gagah sekalipun tertutup kabut yang menyambut datangnya sang surya terbit.

Belum berhenti takjub akan sajian negeri di atas awan yang tak terelakkan di tongkonan Lempe, Lolai. Perjalanan pun berlanjut ke Tikala.

Katanya, kami akan diajak melakukan penanjakan ke stone forest di Tangrante.

“Belum banyak yang tahu tempat wisata ini. Saya dan Kak Abun baru 4 bulan yang lalu membuat jalan pendakian di stone forest. Ya, demi apalagi? Tujuannya tentu ingin mengenalkan scared highlands di Toraja,” jelas Pak Alvian.

Heran, sekaligus haru. Sebegitu besar perjuangan pemuda Toraja untuk menghidupkan pariwisata di Toraja. Tabik!

Napas terengah-engah, kaki berhenti melangkah. Beberapa kali mengusap peluh, tetapi semangat tak pernah luruh. Kurang 5 menit sampai di atas. Kalimat sakti bagi seorang pendaki. 

Kembali menata semangat, Stone Forest semakin dekat. Saya tak lagi berjalan lambat. Di tengah semak-semak belukar, saya mencoba untuk berjalan cepat demi segera sampai di puncak bebatuan karst.

Tak lama, kurang lebih 1 jam 30 menit, akhirnya batuan karst yang tadinya nampak begitu jauh dari pandang. Kini terlihat begitu dekat dan mengaggumkan.

Kembali, saya merapalkan mantra itu. Takjub dan berseru, ‘5 detik saja. Biarkan netraku berkelana menikmati indahnya ciptaan-Mu. Senantiasa menata harap, kelak, aku akan kembali ke sini. Memintal kisah-kisah abadi  di bumi para raja.” TORAJA NEVER ENDING STORY.” 

Mengabadikan kenangan di Stone Forest Tangrante

Setumpuk Cinta untuk Indonesia dari Bumi Toraja

Setumpuk cinta untuk Indonesia dari Bumi Toraja adalah cara saya mengagumi segala hal tentang Toraja. Mulai dari keramahan masyarakatnya, adat istiadat, tradisi, wisata alam, hingga kuliner.

Di sisi lain, saya mencoba mengungkapkan fakta tentang Indonesia memang pantas mendapat julukan ‘Negara Super Power bidang Budaya’ kepada generasi penerus bangsa dengan mengambil contoh Toraja.

Sumber foto: @addaskhadir

Sadarkah, jika generasi bangsa kita terlalu gengsi mengakui budaya bangsa sendiri?

Sadarkah, jika anak muda Indonesia sudah menurun rasa cinta budaya dan nasionalismenya terhadap bangsanya?

Tak dimungkiri masuknya era globalisasi yang memudahkan telah menggeser kecintaan budaya. Anak muda banyak yang mendewakan budaya asing.

Contoh konkret di depan mata. Anak kecil zaman sekarang, sejak lahir mereka justru dikenalkan dengan mainan boneka barbie agar bisa diam di rumah. Padahal bisa saja orang tua mengenalkan permainan tradisional dari daerah masing-masing bukan?

Contoh lainnya, jika di sebuah meja terhidang dua menu makanan, yakni antara fried chicken dan Coto Makassar, mana yang akan mereka pilih?

Saya pastikan, fried chicken menjadi pilihan number one. Apalagi ketika sebuah data berbicara dimana hasil penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Children and Media, anak-anak cenderung suka junk food dibanding makanan sehat rumahan. Nah!

Untuk itu, bertepatan dengan bulan SUMPAH PEMUDA pada tanggal 28 Oktober 2021, saya sebagai generasi muda memiliki harapan, bahwa cinta tanah air dan budaya harus dibangkitkan.

Kita bisa mulai dari hal yang sederhana, yakni dengan mencintai keragaman budaya di daerah sendiri misalnya. Jangan sampai, masyarakat Indonesia lebih mencintai budaya asing. Sementara orang asing justru mengagungkan kebudayaan Indonesia. Nggak lucu kan?

5 hari di Toraja menghadiri acara “Toraja Highlands Festival” membuat saya takjub betapa pemuda di sini jiwa nasionalismenya tinggi.

Rasa gotong royong demi suksesnya acara festival tersebut, juga cara memberikan edukasi kepada para pemuda tergambar dengan sangat epik.

Mereka tidak secara langsung mengajak para pemuda dengan bilang “Hei, Toraja ini kaya budaya, lho” tetapi menggandeng banyak lini untuk mengundang ketertarikan akan cinta budaya di daerah sendiri.

Misal lomba fotografi dan blogger tingkat nasional, yang mana para finalis lomba diajak turun ‘on the spot’ untuk berburu obyek wisata lokal.

Pemenang akan diumumkan di pentas Toraja Highlands Festival. Dengan begini, masyarakat Toraja harus berbangga diri, jika orang di luar Toraja saja memuja kotanya, lantas bagaimana dengan mereka?

Well, apa saja yang bisa mendiskripsikan setumpuk cinta untuk Indonesia dari Bumi Toraja yang saya maksudkan?

Sebut namanya Pong Arnold, pengrajin Parang yang tinggal di Lembang La’bo Kecamatan Sanggalangi Toraja Utara.

Beliau menuturkan bahwa profesi Pande besi ini sudah dilakoninya sejak usia muda, dan masih berlanjut hingga sekarang.

Di sebuah gubuk sederhana, beliau juga bercerita bahwa dia mulai menggandeng warga sekitar untuk ikut membuat parang khas Toraja sebagai sumber penghasilan, khususnya para pemuda.

Yang bikin kagum, walaupun teknologi sudah sangat maju, tetapi alat yang digunakan rata-rata masih sangat tradisional. Pembakaran parang pun masih dilakukan dari sumber api dari tungku.

Sumber foto: @agustinuselwan

Selain Pong Arnold, Tarian Page’llu juga sempat mencuri hati saya pada pandangan pertama.

Keluwesan jari si penari, gerakan tarian yang teratur, juga tabuhan gendang dari anak muda yang mungkin usia masih SMP sungguh menghanyutkan.

Sambil membayangkan,  seberapa mewah dan meriah tarian ini digelar pada acara Rambu Tuka’ yang bermakna sebagai ucapan syukur dan suka cita terdahulu?

Hebatnya sampai sekarang, tarian ini masih dilestarikan dan bahkan sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda tahun 2014 oleh UNESCO.

Dan sesudahnya, UNESCO memilih Tongkonan dan Rambu Solo’ juga sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2017 dan 2018.

Tarian page’lu ini saya temui di dua desa, yakni di desa Tikala dan Lempo Barurung, Sesean.

Sumber foto: @agustinuselwan

Satu lagi, Tarian daerah Toraja yang bikin saya terkesima, adalah Tarian Manganda.

Tarian yang dibawakan oleh sekelompok lelaki yang menggunakan tanduk kerbau di kepala dan dihiasi uang logam dan menggunakan semacam bel yang berdering-dering  diiringi teriakan Ahahahihi. Entah maksudnya ucapan Ahahahihi tersebut, tapi jujur saya merasa terhibur.

Sumber foto: @agustinuselwan

Nah, sudah terbayang, akan melakukan apa untuk memupuk jiwa nasionalisme di bulan sumpah pemuda?

Pesan Terakhir, Tapi Bukan Akhir 

Menulis adalah mencipta, dalam suatu ciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya dan kemampuan saja, tetapi ia sertakan jiwa napas hidupnya. – Stephen King

Seperti halnya ketika saya sedang menulis tentang TORAJA. Yang terpikir hanya sebuah ketakjuban, kekaguman, dan hal-hal magis yang sulit saya cari ending-nya.

Bagaimana saya harus mengakhiri cerita perjalanan tentang Toraja? Jika jiwa saya saja masih belum merasa puas menjelajah di sana.

Mungkin benar TORAJA NEVER ENDING STORY. Dan suatu hari nanti saya akan kembali. Tabik!

Kurre’ Sumangga.

 

Malica Ahmadhttp://www.mywordsjourney.com
Menulis dan perjalanan adalah dua hal yang akan bermuara pada satu titik. Yaitu bagaimana jati diri seseorang ditemukan.

Related Stories

Discover

Setumpuk Cinta untuk Indonesia dari Bumi Toraja

Sihir itu dimulai dari Terbitnya Sang Surya di Hotel PiAs Poppies, Rantepao Selamat datang Land...

Pengalaman Pertama Snorkeling di Kodingareng Keke, Makassar

Hi, traveler ... Jika disuruh memilih, kamu suka berlibur ke mana? Pantai, gunung, mall, puncak...

Referensi Jasa Pengiriman Barang Paling Banyak Dicari, Fasilitas Cek...

Jasa Pengiriman Barang Paling Banyak Dicari, Fasilitas Cek Ongkir Barang yang Fast Respon dan...

Keseruan Perjalanan Surabaya Jember Naik Kereta Api Sri Tanjung...

Hola, Traveler Apakah saat ini kamu ingin melakukan perjalanan Surabaya Jember Naik Kereta Api? Jika...

Ini Alasan Kenapa Saya Harus Menjejakkan Kaki Ke...

“Sejak kapan terpikat magisnya Tana Toraja?" Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebelumnya saya harus berterima...

Pesona Laskar Pelangi di Pantai Tanjung Tinggi Belitung

Hai, Traveler ... Tahukah Anda bahwa pantai Tanjung Tinggi Belitung merupakan lokasi syuting film laskar...

Popular Categories

Comments

  1. salah satu hal yang unik ya prinsip masyarakat toraja, kerja keras terus semasa hidup buat bekal kelak ketika mati, bertolak belakang sama kebanyakan orang yang berusaha bekerja keras untuk menciptakan kenyamanan masa kini dan masa depan. Masyarakat Toraja ini emang masih kentel banget ya budayanya, semoga bisa terus lestari, dan kita pun sebagai anak muda, sebagai traveler bisa turut serta menjaga kelestarian dan keagunan adat tersebut.

  2. Masya Allah akhirnya bisa ke Toraja juga ya. Bisa melihat langsung bagaimana budaya dan tradisi adat orang sana. Kalau kemarin saya ada di kampung halaman bisa segera nyusul, cuma 2 jam doang dari kampung. Hahaha. Toraja membuat hati menjadi terpikatkan.

  3. Perjalanan dan kisahnya ke Toraja mirip dengan blogpostnya Mbak Arai Minggu lalu nih. Begitu juga foto dan sumbernya banyak yang sama. Kalian satu rombongan ya?
    Senang banget pastinya ya bisa menyaksikan langsung semua itu. Bangsa kita memang kaya. Satu tradisi suku saja tiada habisnya …

  4. Aaak, baca ini lagi jadinya kangen lagi kan mbaa Mallicaaaa. Huhuhu, rasanya waktu kita seminggu di Toraja kemarin itu brasa mimpi gak sih. Duh aku jadi kangen dengan drama kita jelang mau mandi hahaha. Semoga bisa balik yak ke Toraja!

  5. Keren banget mba Mal.. Saya juga penasaran banget tentang upacara Rambu Solo’. Berarti emang bener ya semakin banyak kerbau yang dikorbankan maka akan semakin mudah jiwa orang yang meninggal sampai ke Puya. Keren deh cerita perjalanannya. Semoga kami pemuda Indonesia bisa menjadi agent of chane untuk bumi pertiwi.

  6. waah asyiknyaaa.. saya jadi keinget waktu saya kecil ke Toraja. Pas masuk ke tebing goa yg ada banyak tengkorak nangis2.. eh tapi nangisnya gara2 liat temen yg masih kecil nangis2 wkwkwk

  7. Jadi ingat beberapa tahun lalu pas ke Tana Toraja.. Adat yang masih dilestarikan bikin aku kagum sendiri sama daerah ini.. Kebetulan waktu itu sempat lihat kerbau 1M itu, tedong saleko, yang memang besaaar sekali!

  8. Toraja memang indah.
    Senang dengan kebudayaan lokal di sana yang masih kental dan terus dilestarikan. Karena jadi ciri khas yang akan selalu dibawa hingga ke generasi berikutnya.

  9. Alhamdulillah, langit menjawab do’anya dalam waktu yang tak begitu lama ya, mba.
    Bumi Toraja menyuguhkan keindahan alam, kekuatan budaya yang tetap terjaga, dan kuliner dgn rasa auntentik.
    Mengunjungi Toraja tidak cukup sekali memang ya.
    Semoga suatu hari nanti saya juga bisa berkunjung ke tanah para raja ini.

  10. Sungguh beruntung bisa berkunjung ke Toraja, Mbak. Rumah adat tongkonan memang memukau dunia, sebab ga cuma rumah adat saja tapi jadi pusat kebudayaan dan merumuskan aktivitas sosial. Salut dengan masyarakat setempat yang masih memegang tradisi kuat-kuat, yang memang memikat perhatian global. Belum lagi agrowisata dan kopinya, uwow. Kapan ya bisa ke sana sendiri hehe 🙂 Makasih deh dan dihibur dengan cerita yang maknyus.

  11. Mbak Malica, bagus bangeeet. Saya jadi merasa ikut berkelana ke bumi Toraja. Memang pantas ya jadi salah satu tempat yang harus dikunjungi apalagi kalau pas ada ritual atau prosesi pemakaman.

  12. Mbak yang makanan dari kluwek rasane gimana sih penasaran. Kayak rawon gitu ta? Kok autentik tapi aku ga bisa bayangin autentik tuh kayak gimana. Seru banget catatan perjalanan ke torajanya. Ditunggu catatan perjalanan ke kota lain

  13. ya ampun takjub deh baca cerita tentang toraja ini berasa berada di sana, lihat kerbau -kerbau yang ditebas kepalanya dengan pisau kecil, kete kesu dan banyak tongkonan dengan beda fungsi feel amzing dengar ceritanya…

  14. Mbak aku terpana. Kisah perjalanannya ke Toraja benar2 luar biasa Mbak. Bersyukur banget ya bisa jalan-jalan ke Toraja dan menyaksikan langsung berbagai acara adat di sana termasuk proses acara kematian. Saya selama ini cuma dengar saja kalau orang Toraja itu bekerja keras agar kematiannya bisa dirayakan secara besar-besaran. ternyata acara tersebut punya makna yang dalam ya

  15. Wow…keren banget ini tulisan.Toraja destinasi impian saya. Menarik adat kematian disana. Saya punya teman dari Toraja, beliau cerita sedang nabung untuk mebuat pesta adat ibunya yang meninggal di Toraja. Karena biayanya lumayan besar, keragamaan budaya Indonesia

  16. Ya Alllah aku iri lho….Tana Toraja is one of my bucket list. Pengen banget berkunjung ke sana. Dari pertama baca cerita tentang Tana Toraja udah jatuh cinta dan berharap bisa menjejakkan kaki ke sana juga.

  17. Adat istiadat dan budaya di Toraja ini benar benar dipegang teguh oleh masyarakatnya walaupun sudah keluar dari toraja. Apalagi yang mereka lakukan sungguh unik baik dari kebiasaan, arsitektur sampai dengan kehidupan sehari hari. Unik untuk diulik

  18. Baca dari awal sampe abis jadi terbawa suasana, seperti benar benar berada di sana juga. Tp merinding juga pas liat foto foto peti mayat di dalam goa.

  19. Mbak Malica, luar biasa sekali baca tulisanmu ini. Membuatku tambah ingin sekali ke Toraja. Komplit membahasnya.Selama ini aku cuma nonton lewat youtube aja. Terima kasih mbak. Pas masuk ke halaman ini, never ending juga membacanya.

  20. Mbak Malica, luar biasa sekali baca tulisanmu ini. Keren juga foto-fotonya. Membuatku tambah ingin sekali ke Toraja. Komplit membahasnya.Selama ini aku cuma nonton lewat youtube aja. Terima kasih mbak. Pas masuk ke halaman ini, never ending juga membacanya.

  21. Foto-fotonya cekp-cakep euy…Paling suka sama Ngeri diatas awan .. amazing ya..bisa melihat langsung .. Semoga ada kesmepatan ke Toraja lagi nih.. pengen ke negeri diatas awan sama kulineran Toraja

  22. Perjalanannya seru mba, aku jadi tahu banyak tentang acara adat Toraja juga kulinernya. Fotonya juga keren-keren, bismillah, semoga aku juga bisa menginjakkan kaki di tanah Toraja, aamiin!

  23. Toraja memang menyenangkan. Antara budaya dan mistis bercampur jadi satu dan memancing penasaran.

    Sayang waktu ke Toraja gak sempat nonton upacara kematian karena keterbatasan waktu. Tapi kami masih sempat diajak melihat jenazah yang akan diupacarai. Jenazah itu disimpan 2 tahun di rumah

  24. Dulu aku pernah mendengar beberapa penutur lokal bercerita tentang budaya toraja. diriku hanya terperangah sih, bagaimana nenek moyang suku Toraja bisa berpikir seperti ini. Takjub bagaimana mereka menuturkan hubungan dengan leluhr dan Pencipta. Keren!

  25. tahun 2013 saya menginjakan kaki saya di tanah Toraja ini, rasanya kangen banget pastinya sekarang sudah banyak yang berubah dan pengen lihat lagi destinasi wisatanya yang baru, banyak diupload duh indah-indah banget

  26. Luar biasa nih kisah perjalanan di Toraja, mba. Temanku yang orang sana juga pernah bilang, upacara pemakaman leluhurnya bisa makan biaya hingga ratusan juta. Saking panjangnya ritual yang harus dilakukan. Semua keluarga guyup rukun untuk melaksanakan tradisi yang telah berjalan ratusan tahun tersebut.

    Pengin juga bisa menelusuri tapak-tapak perjalanan di Toraja. Semoga suatu saat bisa ke sana dan menikmati semua keindahan yang tersaji dalam tulisan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here