Travel
5 Wisata Religi Cirebon yang Wajib Kamu Kunjungi

5 Wisata Religi Cirebon yang Wajib Kamu Kunjungi

Hola, travelers, wisata Indonesia begitu kaya akan destinasi wisata memukau, Salah satunya adalah wisata Cirebon.

Cirebon bukan hanya mempunyai destinasi wisata alam yang cantik dan mempesona.

Tradisi dan kebudayaannya pun unik, multikultural, perpaduan dari Jawa, Sunda, China, Arab dan India. Wisata religi Cirebon juga menarik untuk dikunjungi.

Sebagai tempat penyebaran agama Islam pertama di Jawa, peninggalannya sampai sekarang masih terjaga dan menjadi wisata ziarah Cirebon yang sayang jika terlewatkan.

Tidak sedikit peninggalan unik dari berbagai etnis dan keyakinan sebelum Islam berkembang di wilayah yang terkenal dengan sebutan kota udang ini.

Wisata religi di Cirebon yang sangat menarik

Sampai saat ini, Islam merupakan agama sebagian besar masyarakat Cirebon.

Memasuki wilayah kota ini, sangat mudah untuk menemukan masjid atau mushola sebagai tempat beribadah.

Meski penganut agama lain cukup banyak, mereka hidup berdampingan dan saling membantu. Keragaman ini justru terlihat menarik.

Penganut agama lain juga bebas menjalankan ibadah sesuai kepercayaannya. Budaya saling asah, asih dan asuh sudah diajarkan oleh para pemimpin sejak dulu.

Nilai ini masih terus diwarisi dan dipertahankan sampai sekarang. Tertarik untuk mengunjungi peninggalan religi di Cirebon? Paket wisata religi Cirebon biasa merekomendasikan 5 tempat berikut:

1. Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Cipta Rasa Cirebon

Meski bangunannya sangat sederhana dengan dinding dan pagar berbahan bata tanpa pelapis, namun sangat unik dan menarik.

Warna bangunan identik dengan merah yang merupakan ciri etnik China. Desain arsitek yang tidak biasa menjadikannya mempunyai daya tarik tersendiri.

Letaknya di Jln. Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Bangunan masjid ini didirikan oleh dua tokoh yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, yaitu Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga pada tahun 1498.

Keduanya merupakan tokoh yang mempunyai andil besar dalam mengembangkan agama Islam. Caranya pun unik sehingga masyarakat mudah menerimanya.

Pintu utama masuk masjid sengaja dibuat lebih rendah dari biasanya.

Tujuannya adalah agar orang yang masuk untuk beribadah, menundukkan kepala. Ini merupakan wujud tanda hormat terhadap siapa saja yang ada di dalam masjid, terutama mereka yang sudah datang terlebih dulu.

Di dalam masjid terdapat sumber mata air yang sampai Sekarang masih dimanfaatkan. Bukan hanya untuk berwudhu, tetapi juga keperluan lain.

Banyak yang meyakini, air dari sumber tersebut mampu menyembuhkan banyak penyakit.

Menurut cerita, masjid ini merupakan persembahan dari Sunan Gunung Jati kepada istrinya, Nyi Mas Pakungwangi.

2. Makam Sunan Gunung Jati

Makam sunan gunung jati

Syarif Hidayatullah atau yang terkenal dengan nama Sunan Gunung Jati merupakan tokoh yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat.

Beliau mampu memasukkan Islam dalam kehidupan masyarakat sehingga mudah diterima. Sampai sekarang, makamnya selalu menjadi tujuan peziarah yang datang ke Cirebon.

Lokasi makam Sunan Gunung Jati berada di Jln. Alun-alun Ciledug nomor 53 Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon.

Bangunan makam sangat unik, karena merupakan perpaduan dari haya Arab, Jawa dan China. Waktu paling ramai dengan kunjungan peziarah adalah pada saat perayaan hari besar Islam.

Untuk sampai ke lokasi makam, pengunjung harus melewati pintu gerbang sejumlah 9 buah.

Sedangkan masing-masing mempunyai anak tangga berjumlah 7. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan mendekat ke area makam, namun hanya boleh sampai gerbang ke 9.

3. Petilasan Sunan Kalijaga

Petilasan sunan Kalijaga

Objek wisata religi Cirebon berikutnya adalah petilasan Sunan Kalijaga.

Selain terkenal sebagai penyebar Islam di bagian tengah Pulau Jawa, Sunan Kalijaga juga turut menyebarkan agama Islam di Cirebon bersama Sunan Gunung Jati.

Tidak heran jika beliau mendapat banyak pujian di wilayah Cirebon dan petilasannya selalu ramai oleh peziarah.

Lokasi petilasan tidak jauh dari makam Sunan Gunung Jati, berada di tengah pemukiman penduduk.

Tepatnya di kampung Kalijaga, Desa Kalijaga Kecamatan Harjamukti. Objek wisata Cirebon satu ini bukan hanya berkaitan dengan dakwah, zaman dulu juga biasa digunakan oleh tokoh untuk mengadakan pertemuan.

Selain tempat tidur lengkap dengan kelambu, di petilasan tersebut juga terdapat sumber mata air yang ada sejak dulu.

Sampai sekarang sumber mata air tersebut tetap terjaga dan dimanfaatkan. Seperti di makam Sunan Gunung Jati, objek wisata ini juga ramai pada saat perayaan hari besar Islam.

Selama di Cirebon, Petilasan ini merupakan tempat Sunan Kalijaga banyak menghabiskan waktu. Kadang, di sekitar petilasan bisa dijumpai monyet yang berkeliaran.

Menurut sejarah, monyet itu dulu merupakan santri dari Sunan Kalijaga.

4. Keraton Kasepuhan

Keraton ini sudah berdiri ratusan tahun, tepatnya pada tahun 1529. Pendirinya adalah Sunan Gunung Jati. Sampai saat ini masih banyak peninggalan zaman kesultanan Islam yang masih terawat.

Benda-benda tersebut antara lain singgasana raja dan kereta Singa Barong. Selain saat perayaan hari besar Islam, objek wisata satu ini juga ramai untuk study tour pelajar dari Cirebon maupun luar kota.

5. Keraton Kanoman

Keraton Kanoman didirikan oleh salah satu tokoh yang terkenal, yaitu Sultan Badaruddin atau Sultan Kanoman I.

Pengunjung dapat leluasa mengelilingi objek wisata seluas 6 hektar ini. bangunan keraton berdiri pada tahun 1588. Sultan Kanoman merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati.

Dalam bangunan keraton pengunjung bisa menyaksikan peninggalan yang sampai sekarang masih terjaga dengan baik.

Benda-benda bersejarah yang bisa disaksikan antara lain koleksi Sultan, pusaka, Jempana dan kereta Paksi Naga Liman.

Untuk melengkapi kunjungan ke objek wisata religi, wisatawan bisa sekalian berbelanja di pasar Kanoman yang letaknya tidak jauh dari keraton Kanoman.

Wisata religi Cirebon selalu ramai dan menjadi destinasi yang menyenangkan. Selain berlibur, pengunjung juga dapat mempelajari sejarah religi di Cirebon dari tahun 1500 an yang sampai sekarang tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.